Goresan Kisah Belajar Bahasa Inggris Agar Tidak Luntur Semangat Belajarnya


"Ngapain sih susah-susah belajar bahasa Inggris?'
"Lagian, kita kan tinggal di Indonesia"
"Duh yang rajin pergi kursus bahasa Inggris."
"Bahasa Inggris itu ngga bakalan ke pake"

Begitulah rentetan entah itu ledekan atau gurauan yang terdengar di telinga Joko saben kali dia ingin bertolak pergi belajar bahasa Inggris. Dan Joko hanya tersenyum mendengar kata-kata teman kerjanya. Tiap kali usai kerja celetukan teman-temannya mengantarkan langkah dia menuju ke tempat dia biasanya menunggu bis kota, yang akan membawanya ke tempat dimana dia biasanya kursus bahasa Inggris.

Joko hanyalah seorang pramusaji di sebuah restoran cepat saji terkemuka di Semarang. Dia berasal dari keluarga yang biasa saja, dibilang kaya tidak, dibilang miskin banget juga tidak. Semuanya serba pas. Pas buat makan sehari-hari, pas buat belanja sehari-hari, pas buat buat beli pakaian, pokoknya serba pas.

Sebenarnya Joko ingin sekali dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi impian itu harus dikuburnya dalam-dalam lantaran orang tuanya pernah mengatakan padanya kalau mereka sudah tidak mampu lagi membiayai pendidikannya seusai tamat SMA.

Hingga suatu hari, Joko mendapat sebuah informasi dari teman sekolahnya dulu, yang tanpa sengaja berpapasan ketika mereka hendak membeli kebutuhan bulanan di sebuah toko. Dari informasi inilah Joko melamar dan akhirnya bekerja di sebuah restoran cepat saji terkemuka.

Hari demi hari, Joko menjalani rutinitas yang bisa dikatakan sama. Setiap harinya, dia bangun pagi-pagi buta, bahkan ayam jantan saja belum sempat berkokok. Lalu mengambil sebuah sapu dan bergerak kesana kemari membersihkan seluruh ruangan. Tak lama kemudian, dia membantu ibunya pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan memasak.

Tak jauh berbeda dengan kegiatan yang dikerjakan di rumahnya,  di tempat kerja, Joko melakukan hal yang sama dari bersih-bersih menyiapkan menu dan terkadang memasak. Dari mulai matahari terbit di timur hingga menjelang matahari terbenam. Disela-sela istirahat dia selalu menyempatkan diri untuk melatih bahasa Inggrisnya dengan bicara pada diri sendiri. Meskipun teman-temannya tidak henti-hentinya menggodanya, Joko tetap melakukannya.

Kisah Belajar bahasa Inggris
Kisah Belajar bahasa Inggris - langitbirukata.com

Entah sudah berapa kali, Joko mendengar celetukan dari teman - teman nya mengenai keinginannya untuk terus belajar bahasa Inggris, tapi yang jelas sudah hampir dua tahun berlalu, Joko belajar bahasa Inggris. Semangatnya agar lancar berbicara bahasa Inggris terus berkobar seperti nyala api yang kian membesar.

Tapi Petang itu, Joko terlihat lain dan tidak seperti biasanya. Sudah menjadi kebiasaan Joko mengikuti sebuah program percakapan bahasa Inggris seusai kelas kursus bahasa Inggris. Program ini teritegrasi dengan materi bahasa Inggris yang murid-murid dapatkan di dalam kelas.

Dalam program percakapan yang berdurasi hanya 45 menit ini, para murid di motivasi untuk membangun rasa percaya diri berbahasa Inggris. Program ini di awali dari seorang pemandu program yang berbicara mengenai sebuah topik dalam bahasa Inggris. Setelah itu, pemandu program akan membagi murid-murid dalam kelompok-kelompok kecil, biasanya terdiri dari 3 atau 4 orang, dan kemudian si pemandu akan menunjuk satu pemimpin dari masing-masing kelompok kecil tersebut. Setelah kurang lebih 20 menit masing-masing anggota berbicara bahasa Inggris untuk mengutarakan pendapat mereka mengenai topik yang telah diberikan. Belum terjawab pertanyaan yang ada dalam benakku ada apa gerangan dengan Joko hari ini, dia datang menghampiriku.


Seusai program ini selesai dan semua murid meninggalkan ruangan, Joko datang menghampiri ku dan dengan raut wajahnya sedikit murung dia mengatakan

"I think what my friends said about English was all correct. I find it useless.I don't think I want to keep on learning English."

Biasa yang kata-kata yang kudengar dari Joko adalah sebuah perasaan optimis bahwa dia akan berhasil di kemudian hari jika dia menguasai bahasa Inggris, tapi ini kali berbeda. Dia tampak putus asa dengan segala jerih upaya yang telah dia dedikasikan untuk belajar bahasa Inggris. Sesaat aku memandang ke sorot matanya yang terlihat redup. Kemudian aku menjawabnya.

Joko, well,..we really have no idea what our future brings, but we both know for certain that you are here to study English for better future. Please remember that!

Joko hanya terdiam mendengar jawabanku. Kemudian sesaat sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Setelah memohon diri pamit untuk pulang, dia pun bergegas menuju halte bis yang berada tepat didepan tempat kursus bahasa Inggris.

Secarik kertas tertempel rapi disebuah papan pengumuman di ruangan karyawan sontak membuat kaget semua para karyawan yang pada pagi itu sedang sibuk mempersiapkan bahan-bahan memasak, membersihkan seluruh ruangan restoran, serta mengatur beberapa kursi dan meja. Pagi itu yang tadinya suara hiruk pikuk karyawan dengan segala aktifitasnya. Tiba-tiba, suasana menjadi sangat hening.

Semua mata tertuju pada deretan kata yang berbunyi:

A famous Fast Food Restaurant in Singapore, invites all potential Indonesian candidates who meet the following requirements to fill in as

Service Crew

Successful candidate are those who:

Have high energy to a strong passion for delighting our customers.
Have ability to serve customers in a fast and friendly manner. 
Are willingness to serve shift hours, weekends and public holidays
Are Fluent in spoken and written English.

Submit your application by the following month.

Sejenak mereka tertegun setelah membacanya. Entah apa yang mereka pikirkan setelah itu mereka kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Dua bulan semenjak Joko datang mengungkapkan unek-uneknya, aku tidak pernah melihat dia lagi datang untuk belajar bahasa Inggris. Aku hanya berpikir mungkin dia sakit atau sedang ada masalah atau lainnya. Seusai kerja iseng, aku mampir ke sebuah warnet langganan aku sekedar ingin mencari bahan untuk persiapan besok hari.

Sepucuk email masuk dan ternyata dari Joko yang isinya mengatakan bahwa dia berterimakasih sudah mendukung dia selama ini dalam belajar bahasa Inggris. Dia juga mengatakan kalau ada tawaran kerja di restoran cepat saji yang berada di Singapura, yang masih satu perusahaan dengan tempat dia bekerja di Semarang. Dia dinyatakan telah lolos berkat bahasa Inggris yang telah dia pelajari selama ini. Dia juga menceritakan kalau teman-teman sekerjanya setelah membaca tawaran kerja tersebut juga mendaftar kursus bahasa Inggris.

Sejenak aku tertegun dan tersenyum mengingat Joko. Aku hanya berpikir dalam hati bagaimana cerita kelanjutannya dengan teman-temannya Joko.


0 Response to "Goresan Kisah Belajar Bahasa Inggris Agar Tidak Luntur Semangat Belajarnya"

Post a Comment

Silakan berkomentar yang santun dan sesuai topik. Hanya komentar yang sesuai kebijakan yang akan ditampilkan. Baca selengkapnya di Kebijakan Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel